Memaknai Setiap Kesempatan

Potongan Mozaik di Sedekah Booster Indonesia

Pernah suatu hari, tanpa sengaja ketemu sama seseorang. Dari pertemuan itu, kami sempat diskusi. Saya bertanya, "Apa yang membuatmu tetap bertahan melakukan sesuatu yang, secara lahiriah (zhahir), tampak tidak memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan hal-hal lain yang bisa kamu lakukan?"

Beliau menjawab, "Umur tidak selalu panjang, kesempatan tidak selalu datang. Yang paling jelas, saya merasa senang, tenang, dan damai ketika melihat mereka tersenyum. Senyum itu bukan tanpa alasan, melainkan karena setiap detik kehidupan yang mereka jalani selalu mereka syukuri sebagai nikmat."

Jawaban itu membuat saya berpikir. Ketika melewati jalan-jalan dengan kondisi yang begitu memprihatinkan, jauh dari kata layak dan nyaris tak pernah mendapat perhatian, mereka tetap bertahan menjalani hidup. Lalu bagaimana mungkin kita yang mengaku sadar dan memiliki empati hanya memilih berdiam diri di tengah keadaan, sementara masih ada begitu banyak ketidakadilan dan mereka yang seharusnya bertanggung jawab justru mengabaikannya?

Dari percakapan itu, saya semakin meyakini bahwa dalam kehidupan ini, pada hakikatnya kita semua saling membutuhkan. Memang, ada sisi di mana manusia saling memanfaatkan, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita saling memberi manfaat.

Sebab pada akhirnya, setiap orang mendambakan ketenangan dan kedamaian. Dan sebagai makhluk sosial, kita tidak pernah benar-benar hidup sendirian. Kebahagiaan, kepedulian, dan kebermanfaatan selalu menemukan maknanya ketika dibagikan kepada orang lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fatiha Nur Istiqomah

Kampus Tak Lagi Sesuai dengan Maknanya

Susanto