Perjalanan Pendidikan
Perjalanan Pendidikan
Cerita tentang penyelesaian magister benar-benar sangat bermakna bagiku, keluargaku, juga perjalananku memaknai tentang banyak hal dalam kehidupan.
Seorang anak pemanjat kelapa cuma punya cita-cita, "suatu saat nanti saya akan meraih pendidikan setinggi-tingginya."
Di saat berniat tentang ini, semuanya masih sangat kosong. Kami tidak punya apa-apa. Kami tinggal di hutan yang rimba. Keluar ke perkampungan butuh waktu dan jarak yang cukup jauh, ditempuh dengan jalan kaki dan melewati gunung juga jalan yang sangat sepi.
Saya ingat betul, di saat belum sekolah, saya bermain tanpa seorang teman. Pagi-pagi cuma bisa dengar semua suara penghuni hutan terdengar, suara angin bertiup di tengah banyaknya pohon, suara air mengalir tanpa henti. Sungguh indah juga menenangkan.
Sebelum masuk sekolah, seingat saya sekitar umur 5 tahun sempat dibelikan sebuah buku juga pulpen. Buku itu, tanpa sepengetahuan mama sama papa, buku kurang lebih 20 halaman itu sudah penuh coretan. Yang sempat ditegur tulisan seng, hanya karena garis bergelombang.
Lalu kemudian awal mula saya belajar, papa sama mama mengajar satu demi satu huruf abjad, juga mengajar soal berhitung.
Di waktu luang mereka selalu mengulang-ulang pelajaran sebelum saya masuk sekolah dasar. Sebelum tidur mama selalu cerita dongeng-dongeng terdahulu, hingga saya punya adik hal demikian pun dilakukan dengan hal yang sama. Kami selalu merasa tidak sabar untuk mendengar cerita-cerita barunya.
Ketika saya masuk sekolah dasar, cukup lumayan dramatis perjalanannya. Harus bangun pagi sekali, berangkat sebelum matahari terbit karena perjalanan yang jauh ditempuh jalan kaki. Kemudian ketika sampai di jalan raya dilanjutkan dengan naik sepeda papa hingga sekolah. Masih tetap disimpan di pundaknya. Ya, benar sekali, satu-satunya murid yang hingga kini punya khas berbeda itu, layaknya berkeliling kampung memperkenalkan seorang cilik, heheh.
Saya digendong di atas pundak papa karena sudah berseragam rapi. Takutnya nanti kotor kalau jalan kaki. Lengkap bekal makanan hingga sore nanti.
Pulang sekolah hanya sampai siang, tapi saya dijemput di sore hari sekitar jam 5. Setiap pulang sekolah harus menumpang di rumah orang, di rumah teman papa atau di rumah Pak Imam. Dan benar saja, kalau pagi disimpan di pundak, kalau pulang harus jalan kaki. Umur 6 tahun sudah jalan berkilo-kilo di tengah hutan yang sungguh menakutkan. Saya ingat betul kuburan yang dilewati dan itu sangat menakutkan. Langkah kaki papa yang harus kukejar karena sangat cepat. Jadi, salah satu alasan saya cepat jalan ini, teman-teman.
Ada satu waktu kami pulang magrib dan tetap harus jalan. Karena capek, selalu di belakang, saya mencoba jalan di depan dengan berlari-lari kecil. Setidaknya saya bisa sedikit mendahului langkah cepatnya papa. Tak dikira harus ketemu hewan menyeramkan, si babi hutan. Ya, itu benar-benar membekas.
Waktu demi waktu sekolah berjalan setiap harinya seperti itu. Dulu zamannya kami sekolah masih menggunakan kapur. Nah, setiap pulang papa selalu pesan, "Besok jangan lupa minta sisa kapur sama ibunya ya!" Saya kadang bawa pulang kapur utuh, kapur sudah mau habis, dan ya tas saya selalu penuh bekas kapur.
Ketika sudah salat Isya, papa dengan senjatanya, rotan dan cahaya pelita itu, di belakang pintu akan mengulang pelajaran saya di sekolah. Sampai benar-benar saya kuasai. Seingat saya papa pernah melayangkan tangan hanya karena saya tidak bisa menjawab persoalan yang ia tanyakan. Ia mengajar membaca, berhitung, dan setiap pulang sekolah tidak akan pernah terlewat bertanya, "Tadi apa tugasnya?", "Tadi dapat berapa?", "Siapa gurunya?", "Siapa namanya?", dan "Mata pelajaran apa?"
Dan benar saja saya lebih cepat dari perkiraan dan jauh lebih cepat dari teman-teman yang lain. Seingat saya kenaikan kelas pertama saya dapat nilai tertinggi.
Di saat yang sama, peran mama mengajar belajar membaca al-Qur'an, "Kelas 6 nanti lulus sekolah berarti harus khatam Qur'an juga." Perjalanan sekolah dasar demikian hingga saya pindah ke perkampungan pinggir jalan raya.
Sekolah dasar saya alhamdulillah selalu dapat peringkat pertama. Hingga pernah suatu waktu saya dijanjikan hadiah oleh guru. Kalau dapat peringkat pertama akan dapat hadiah, dan ya hadiah itu saat ini saya belum terima.
Mama yang tahu persoalan itu, karena terlalu semangat dan saya harus kecewa. Beliau belikan buku dan teman-temannya dikemas dalam kado sebagai ganti hadiahnya.
Juga pernah sekali momentum tugas puisi. Papa sama mama merangkai kata benar-benar dibuat semenarik mungkin. Tugas saya menjadi puisi yang paling bagus.
Berhitung apalagi, papa sangat semangat kalau mengajar matematika dan ya garangnya juga meningkat. Mata pelajaran ini akhirnya jadi mata pelajaran yang sangat saya sukai. Herannya saat ini saya buntu sekali soal berhitung.
Ya, tiba di penghujung selesai sekolah jenjang sekolah dasar. Melanjutkan pendidikan di tingkat madrasah menengah di Tsanawiyah.
Pondok pesantren, sekolah ini juga berjarak sekitar empat sampai lima kilo dari rumah. Untuk anak seumuran kami waktu itu cukup lumayan. Pulang pergi panas dan jauh, tapi tetap ditempuh. Soal sekolah saya selalu excited melihat hal baru, lingkungan baru, dan saya sangat tertarik dengan dunia pondok pesantren. Saya juga pengen belajar mengaji, tinggal sama teman-teman, dan menikmati kebersamaan dengan program yang ada.
Ya, kali ini juga mengalami kendala. Mama sama papa tidak punya cukup biaya untuk memasukkan saya mondok. Apa yang terjadi, karena tidak mau ketinggalan meskipun harus tinggal seusai jam pelajaran madrasah pada umumnya, saya sempatkan singgah untuk belajar ikut sama anak mondok sampai sore. Saya bawa bekal sama seperti waktu sekolah SD.
Pernah satu kejadian saya menunggu jadwal belajar di pondok. Saya akan tinggal di dalam kelas. Ya, lagi-lagi seorang diri. Makan di kelas yang bagi saya cukup menakutkan, tapi rasa takut itu cukup kalah sama keinginan saya ikut kelas di pondok. Tahu tidak, kalau pernah ada yang masuk kelas, saya bersembunyi di bawah kolong meja. Saya malu ketahuan kalau saya tinggal di kelas dan juga sendiri. Biasanya saya lewat belakang kelas hingga keluar seolah saya baru datang dari rumah untuk belajar, padahal saya datang dari kelas.
Saya tidak punya cukup teman yang akrab di pondok waktu itu. Mereka dari pondok juga tidak begitu suka sama saya. Saya tidak tahu karena apa, entah karena saya berbeda, status saya bukan anak mondok, dilihat miskin, dilihat sok-sok-an, saya tidak tahu. Tas saya pernah dibuang hanya karena saya menumpang belajar. Ya, benar doa mama saya di saat saya pulang menangis mengadu soal ini. Mama berjanji akan mengusahakan apa pun itu untuk saya bisa belajar di masa depan.
Saya selalu dilihati orang ketika saya pulang sekolah, jalan sendiri, pulang di jam yang berbeda, kadang dibonceng sama orang yang lewat.
Di saat papa punya kendaraan, saya sudah bisa ikut kelas hingga malam jam 10. Papa jemput setiap malam. Namun saya masih penasaran, masih ada satu kelas yang saya belum ikuti, yakni kelas setelah salat Subuh.
Ya, waktu demi waktu papa punya uang lebih dan memondokkan saya beberapa bulan. Perjalanan pondok juga tidak berjalan lancar. Mama sakit keras dan selalu drop sedikit-sedikit. Belum cukup satu bulan saya izin pulang karena membantu pekerjaan rumah. Mama sembuh, saya kembali mondok hingga suatu hari mama benar-benar tidak bisa ditinggal lama.
Seiring berjalan waktu saya belajar naik kendaraan, tapi kendaraan yang pernah dipakai itu benar-benar motor yang rupanya buruk sekali. Sampai suatu hari motor itu ditegur orang, katanya, "Dek, mau sekolah atau mau ke kebun?" Wah, malunya luar biasa. Mau melawan, emang motornya butut. Waduh, itu tidak bisa saya lupa.
Hingga akhirnya saya lulus madrasah tsanawiyah dengan dramanya.
Lanjut saya di sekolah yang sama. Saya tetap memilih untuk melanjutkan madrasah aliyah di pondok yang sama.
Kali ini ceritanya lebih seru lagi, heheh.
Masuk madrasah aliyah saya sudah pakai kendaraan yang cukup layak. Mama juga sudah punya sedikit biaya untuk memondokkan saya. Ujiannya, mama sakit parah, keluar masuk rumah sakit. Akhirnya saya memilih untuk mondar-mandir ke pondok untuk belajar.
Oh iya, sekolah aliyah saya cuma bertiga perempuan dan empat laki-laki. Kelas saya sangat sedikit dan menjadi alumni ke-2. Oleh karena itu kelas kami kadang tidak di ruang kelas, tapi bebas di mana gurunya mau mengajar. Ya, saya cukup senang dan cukup suka karena kami bebas berekspresi dan bebas belajar di luar mata pelajaran.
Perjalanan mondok saya sampai saya selesai tidak pernah benar-benar tenang. Saya kadang mondok, kadang pulang, kadang mondar-mandir datang malam pulang pagi. Jadwalnya berantakan, tapi sebisa mungkin saya mengikuti semua kelas. Sekolah MA cukup perjalanan. Belajar saya pulang kadang tengah malam kalau ada kegiatan pondok yang mengharuskan kami tinggal lama. Dan ya belajar saya demikian hingga saya menyelesaikan madrasah aliyah.
Tapi alhamdulillah belajar saya tidak pernah ketinggalan seperti sekolah-sekolah lain, meskipun sekolah kami masih menumpang sama sekolah lain, jadi kalau ujian ikut sama sekolah lain. Di hari-hari ujian mama saya dioperasi. Saya pergi ujian, saya harus benar-benar bangun pagi sebelum ujian mengurus rumah dan adik-adik saya.
Alhamdulillah kami selesai dengan baik. Selesai dengan nilai yang cukup baik. Dan mama setelah operasi alhamdulillah sudah sehat dan jarang lagi drop.
Lanjut tidak sampai di situ, tiba akhirnya saya melanjutkan kuliah.
Memilih kampus, memilih jurusan, juga bagaimana kuliahnya.
Niat saya pertama kuliah cuma mau rasakan bagaimana orang pergi jauh, bagaimana rasanya orang naik bus sejauh Makassar itu, bagaimana gedung-gedung tingginya, dan bagaimana rasanya hidup di kota. Alhamdulillah orang tua mengizinkan.
Karena bingung mau masuk jurusan apa, saya dipilihkan jurusan yang sama sekali tidak saya suka sama sekali. Kalau tidak salah jurusan Pendidikan PAUD, Pendidikan Islam, saya lupa jurusan apa satunya. Ujian UM-PTKIN pada waktu itu. Karena sekolah kami masih menumpang, jadi kami sama sekali tidak dapat kuota jalur undangan.
Tes pertama gagal. Saya masih ngotot saya mau kuliah harus di Makassar apa pun yang terjadi. Tidak perlu kuliah kalau bukan di Makassar. Waktu itu sempat ditolak dan diizinkan kuliah di tempat yang jauh lebih dekat. Saya menolak dan alhamdulillah diizinkan untuk ikut ujian mandiri di kampus label Islam itu sesuai jurusan yang sama, mau jurusan Ilmu Hadis juga Ilmu Al-Qur'an.
Kuliah di Makassar merupakan satu hal yang sangat langka dan cukup membanggakan bagi daerah kami yang terbilang cukup sulit untuk lulus di kampus-kampus ternama. UNHAS, UINAM, UNM, dan kampus-kampus swasta yang sangat mahal bagi kami orang desa terpencil.
Pada waktu mendaftar ujian kedua kalinya, beberapa orang lain sempat mengeluarkan perkataan, "Susah sekali itu lolos, potong jariku kalau lolos kuliah di Makassar." Ada yang lain bilang, "Mau diapakan kuliah tinggi-tinggi kalau anak perempuanji"
Wah, tambah semangat saya belajar. Mati-matian saya belajar, menghafal, pinjam buku di sekolah, menempel, menulis, mengulang-ulang, setidaknya sekitar satu sampai dua bulan kalau tidak salah. Tiba akhirnya saya ujian dan pengumuman itu, dan dinyatakan lulus, dan satu-satunya anak dari keluarga besar pihak mama dan papa kuliah di universitas negeri di Makassar. Alhamdulillah.
Setelah dinyatakan lulus dan harus ke Makassar mengurus berkas, dan tidak punya siapa-siapa di Makassar, papa dengan lincahnya mencari kenalan hanya untuk saya tinggal sementara dan dicarikan kos sementara. Alhamdulillah ada yang menolong. Saya ditempatkan sekitar satu minggu di asrama khusus anak Tafsir Hadis dan Al-Qur'an. Kebetulan ada senior di situ, tapi yang terjadi masa libur, jadi tempat itu sempat dihuni oleh beberapa orang saja dan kamar yang saya tempati kosong di empat gedung itu.
Waktu tetap berjalan. Saya ikuti prosedur jalan asal jalan, bertanya kalau cukup berani, diam saja kalau nda paham. Pernah mondar-mandir asrama hanya karena saya tidak paham mau urus di mana dan mau ngapain. Pernah pula dimarahi sama satpam di beberapa kepengurusan karena kalau bertanya, pertanyaan saya tidak dipahami dan saya bingung saya mau bilang apa, sama yang mau saya urus. Tapi waktu tetap berjalan. Semuanya selesai dan saya terdaftar sebagai mahasiswa baru, resmi menjadi mahasiswa Ilmu Hadis.
Dan yang tidak disangka saya menjadi sekretaris ketua tingkat. Tiket ini membawa saya bertemu beberapa orang tertentu, menghubungi dosen, dan menjadi awal saya melatih untuk mengenal banyak orang dan melatih komunikasi yang baik ke banyak orang.
Selama menjadi mahasiswa sarjana, saya mencoba cari beberapa lembaga untuk memenuhi proses belajar, memenuhi kegiatan, dan membawa saya menikmati beberapa daerah yang masuk dalam list-list yang mau didatangi. Mulai dari lembaga internal kampus juga ekstra kampus.
Masuk semester delapan berjalan, sibuk-sibuknya menyusun skripsi, sempat terkena penyakit aneh. Sekitar lima bulan mandek di rumah dan tidak ngapa-ngapain. Alhamdulillah semua ikhtiar berobat, alhamdulillah sembuh. Meskipun sakit, tetap diusahakan untuk selesai tepat waktu dengan nilai cum laude.
Lulus sebagai sarjana, ternyata pusingnya lebih hebat dari pusing sibuk kuliah. Alhamdulillah tidak berlangsung lama, menyempatkan untuk mengabdi di pondok pesantren sekitar enam bulan, dan di sela itu juga menyempatkan ikut lomba sebagai tambahan untuk berpenghasilan.
Tahun 2024 akhir mendaftar sebagai mahasiswa magister dengan empat mahasiswa lainnya. Tugasnya bukan main. Kami harus meng-cover tugas-tugas lain setara dengan 16 mahasiswa seharusnya. Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa memilih untuk tetap berlembaga yang aktif pada bidang sosial, setidaknya ada dua sekaligus. Di waktu libur saya sempatkan pulang membersamai orang tua, penelitian, hingga selesai.
Di perjalanan S2 ini tidak ada yang begitu muluk-muluk. Mungkin karena S2 sedikit agak mendalam menganalisis dan kupandang sebagai perjalanan spiritual sekaligus, bagaimana benar-benar mendalami apa yang dikaji, apa yang didiskusikan, dan mengaplikasikan pada kehidupan sehari-hari. Bagaimana lebih legowo pada hal-hal kecil. Bagaimana mendahulukan yang lebih utama, dan bagaimana lebih bijaksana dalam menyikapi sesuatu.
That simple, penyelesaian kali ini lebih banyak belajar bagaimana caranya mengambil keputusan, bagaimana caranya menyampaikan hal-hal kecil agar mudah dipahami, dan bagaimana caranya menghargai setiap hal-hal kecil. Tidak memaknai sebagai bentuk kesialan, melainkan sebagai jalan penuh hikmah. Tidak lagi mementingkan kemenangan, tetapi ketenangan. Tidak lagi sibuk menghitung siapa yang lebih banyak, tetapi belajar menikmati setiap proses dan pencapaian bersama, sekecil maupun sebesar apa pun
Tidak mudah, tapi bisa diusahakan, dan itu masih kupelajari.
Ketika kembali mengabdi ke masyarakat, pertanyaan sungguh luar biasa. Ada kalimat sederhana, pintar-pintar menjawab untuk menghindari persoalan.
Selamat menjalani pendidikan, teman-teman, sebaik versi terbaiknya. Ini bukan akhir, tapi awal. Semakin banyak tahu, semakin banyak tanggung jawab.
Wallāhu a'lam.

Komentar
Posting Komentar