Perjalanan yang ingin kubagikan...
Pertama, ini tentang bulan Juni.
Bulan Juni yang kuanggap sangat misterius.
Suatu hari ada hal yang ingin kucapai. Sebelumnya, setiap ada sesuatu yang ingin kuraih, aku selalu mencatatnya. Aku menyusun rencana, berusaha, dan berharap semuanya berjalan sesuai yang kuinginkan.
Namun suatu waktu semuanya berubah karena berbagai hal.
Problem keluarga, kesibukan berlembaga, dan di saat yang sama kuliah yang semakin padat dengan tugas-tugasnya. Aku belajar mati-matian. Pernah berada di titik sangat fokus, lalu tiba-tiba semuanya buyar. Mental jatuh, berujung pada keluar masuk klinik.
Sampai akhirnya aku divonis memiliki tumor akibat stres yang berlebihan.
Di saat yang sama, masalah di rumah belum juga selesai. Aku harus tetap bertahan dan memahami kondisi yang terjadi sewaktu-waktu. Aku mencoba menerima, menjalaninya, dan terus berharap semuanya akan baik-baik saja.
Semua ilmu dan filosofi yang kupelajari, kucoba praktikkan dalam perjalanan ini.
Ada satu kalimat yang selalu terngiang di kepalaku:
"Tuhan, apa pun itu, ridhoi dan tunjukkan jalan yang harus kulalui tanpa harus melakukan hal-hal yang Engkau tidak sukai."
"Tuhan, sebagai manusia, impian dan cita-citaku tidak hilang. Tapi jika itu adalah sesuatu yang menjauhkan diriku dari-Mu, maka izinkan aku menerima segala sesuatunya tanpa perlu merasa bersalah dan tanpa menyalahkan siapa-siapa."
Entah apa yang terjadi, satu per satu jalan yang kutempuh justru mempertemukanku dengan tempat-tempat dan orang-orang yang mengajarkan tentang ketenangan. Mereka mengerti. Mereka membuatku senang tanpa sebab. Sesederhana bertemu dan mengobrol saja, aku bisa merasa tenang dan bahagia.
Perlahan, apa yang sempat retak mulai membaik. Apa yang sempat tertunda mulai menemukan jalannya. Dan semua yang harus kulepaskan ternyata diganti dengan sesuatu yang jauh lebih menenangkan.
Sesederhana ketika aku sedang terburu-buru menuju suatu tempat dan harus menghadapi kemacetan panjang. Aku hanya berpikir:
"Tuhan, kalau ini adalah bentuk keteledoranku, ampuni aku. Mudahkan jalanku. Setidaknya jangan biarkan aku jengkel dalam perjalanan ini. Dan izinkan aku tidak terlambat dalam kategori terlambat yang konyol."
Ketika sampai, aku selalu mencoba mencari satu hal yang berkesan untuk kumaknai sebagai hikmah.
Dan sungguh, teman-teman, rasanya menakjubkan.
Aku teringat kalimat afirmasi yang pernah disampaikan guru kami. Bahwa semua hal adalah saling memanfaatkan. Bahwa dalam hidup, sering kali hanya ada dua kemungkinan: untung atau belajar. Tentang "wifi alam" yang ternyata benar adanya. Mungkin suatu saat akan kuceritakan lebih panjang.
Ada satu kejadian yang masih sangat kuingat. Ada sesuatu yang kuusahakan mati-matian. Ketakutan itu kucoba lawan. Dan kalian tahu apa yang terjadi? Aku gagal.
Tapi ternyata masih ada kesempatan untuk memperbaikinya.
Dalam proses perbaikan itu, semuanya sebenarnya sudah aman. Namun ketika hendak dieksekusi, selalu saja ada kesalahan. Sampai akhirnya aku pasrah.
"Ya Allah, aku sudah berusaha. Tapi tetap saja salah. Aku kembalikan semuanya kepada-Mu."
Dan anehnya, semakin aku menerima, semakin besar pula cara Allah mengembalikan apa yang kuminta.
Mungkin bagi orang lain ini bukan hal besar. Tapi bagiku, ini adalah sesuatu yang sangat besar. Karena aku belajar menerima. Dan ketika kemudian diberi sesuatu yang jauh lebih baik, aku belajar bersyukur.
Ada satu sebab yang membuat semua itu terasa begitu berharga. Dan sebab itu terlalu mahal untuk kuberi label harga.
Sekian cerita tentang tenang itu, teman-teman.
Kadang yang kita butuhkan bukanlah semua keinginan menjadi nyata, tetapi hati yang mampu menerima apa pun hasilnya. Dan mungkin, di situlah letak ketenangan yang selama ini kucari.
Komentar
Posting Komentar